Saturday, May 1

Geologi

Pulau Baru Muncul Mengandung Batu Bara
Jumat, 23 April 2010 | 19:29 WIB

SERAMBI INDONESIA
Permukaan kubah lumpur di perairan Haloban, kecamatan Pulau Banyak Barat, Aceh Singkil yang diabadikan tim ahli geologi, Rabu (21/4).
SINGKIL, KOMPAS.com — Gosong Wulawan, sebutan yang berarti karang emas untuk "pulau" yang baru tumbuh di perairan Haloban, Kecamatan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil, diyakini mengandung material berharga berupa batu bara, gas, dan mineral pirit.

Gundukan yang dinamai kubah lumpur itu kemarin tidak lagi menyemburkan lumpur, tetapi gas yang jenisnya belum teridentifikasi. Potensi barang tambang berharga itu diprediksi oleh tim ahli geologi yang menyelam dan mengambil sampel pasir dan batu di gundukan berbentuk kerucut itu, Rabu (21/4/2010).

"Akan tetapi, prediksi itu masih memerlukan penelitian lebih lanjut dalam waktu yang lama," kata Teuku Mukhlis, ahli geologi dari Banda Aceh, dalam pertemuan dengan Bupati Aceh Singkil Makmursyah Putra di Gedung Olahraga Ketapang Indah, Singkil Utara, Kamis (22/4/2010).

Kesimpulan lain menunjukkan bahwa gundukan berbentuk kerucut yang menyemburkan lumpur atau batuan itu bukanlah daratan dan tidak ditemukan daratan baru di situ. "Yang kami termukan di lokasi hanyalah kubah lumpur yang tidak berbahaya bagi kehidupan manusia di sekitarnya," kata Mukhlis didampingi koleganya sesama geolog, Khairil Basyar.

Teuku Mukhlis dan Khairil sempat kehilangan kontak dengan Serambi Indonesia pada Rabu malam karena mereka ternyata masih berada di atas Kapal Baruna Jaya III (BJ3) dalam perjalanan dari Haloban ke perairan Singkil.

Menurut Mukhlis, observasi di lokasi mencakup pengamatan visual di permukaan, pengambilan sampel air permukaan, pengukuran conductivity temperature depth (CTD), serta pengambilan foto bawah air dan sampel batuan dengan cara menyelam.

Mukhlis mencatat, di situ hanyalah kubah lumpur dari dasar laut pada koordinat 02 derajat 17' 47,1'’ Lintang Utara (LU) dan 097o 13' 08,9'’ Bujur Timur (BT). Ditemukan pula gelembung-gelembung gas (udara) dalam jumlah sedikit dan kondisi air laut di lokasi cenderung lebih keruh.

Tidak ditemukan lagi titik semburan lumpur. Adapun batuan yang dijumpai di kubah lumpur itu, antara lain, mineral lempung, batu bara, dan mineral pirit.

"Untuk emas dan intan kemungkinannya sangat kecil, bahkan cenderung tidak ada," kata Teuku Mukhlis dan Khairil Basyar menjelaskan secara bergantian. Suhu di sekitar kubah lumpur itu 32 derajat celsius pada kedalaman lima sampai enam meter di sekitar kubah.

Dijumpai pula beberapa gundukan lumpur dengan material yang mudah dihancurkan dengan tangan. Salah satu gundukan terbesar yang diukur dengan rollmeter berdiameter dasar 30 meter, tinggi 8 meter, diameter puncak kubah 3 meter yang berada pada kedalaman 5 meter.

Tim observasi menemukan pula, lokasi kubah lumpur yang baru terdeteksi itu berada di daerah pertemuan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia. Kondisi tatanan tektonik di sekitar lokasi menyebabkan labilnya litologi dan banyaknya struktur geologi yang terbentuk.

Gempa terjadi pada 7 April 2010 berkekuatan 7,2 skala Richter menyebabkan terganggunya struktur sesar. Lokasi tersebut secara geologi jauh dari jalur gunung api karena berada pada cekungan muka busur, dan suhunya relatif rendah.

Tak ditemukan ikanDari data tersebut dapat disimpulkan bahwa fenomena alam yang terjadi itu adalah kubah lumpur atau mud volcano atau mud dome yang tidak terkait dengan keberadaan sebuah aktivitas vulkanik. "Kesimpulan ini diambil karena tidak ditemukannya air yang sangat panas di sekitar lokasi, dan adanya gelembung gas yang belum teridentifikasi yang kemungkinan gas metan," ulas ahli geologi berdarah Aceh tersebut.

Dia juga menyebutkan bahwa tidak ditemukan ikan di sekitar kubah semburan. Ini dapat diasumsikan bahwa perubahan suhu dan adanya gas telah memengaruhi kondisi normal lingkungan sekitar sehingga ikan menjauhi lokasi tersebut.

Hasil kajian awal, dengan melihat luas wilayah semburan relatif kecil, jarak dengan permukiman masyarakat relatif jauh sekitar 3 mil laut. Selain itu, semburan lumpur sudah sangat kecil dan hanya mengeluarkan gelembung gas yang relatif sedikit.

Pada kondisi ini, fenomena yang muncul di lokasi tersebut tidak membahayakan masyarakat sejauh tidak ada peningkatan aktivitas mud volcano. "Hal ini sudah kami sampaikan kepada seluruh masyarakat dan tokoh masyarakat setempat (Kecamatan Pulau Banyak dan Pulau Banyak Barat) yang naik di Kapal Baruna Jaya setelah observasi lapangan selesai," kata Mukhlis.

Ia mengimbau agar masyarakat tidak panik, tetapi tetap waspada. "Untuk sementara waktu, sebaiknya masyarakat tidak menyelam di sekitar lokasi karena masih ada aktivitas gas," imbuh Mukhlis. (c39)

Ledakan Misterius di Duren Sawit

Masuknya Meteorit Sulit Diprediksi
Laporan wartawan KOMPAS.com Tri Wahono
Jumat, 30 April 2010 | 17:29 WIB
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri mengumpulkan material dari ledakan yang belum jelas asalnya di Jalan Delima VI Gang Dua No 31, Kelurahan Malakasari, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat (30/4/2010). Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri mengamankan debu-debu berbentuk pasir dan memastikan sumber ledakan bukan dari bahan peledak.
JAKARTA, KOMPAS.com — Tidak mudah mengantisipasi masuknya meteorit ke permukaan Bumi untuk mencegah kerusakan seperti yang terjadi di Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (30/4/2010). Demikian dikatakan Dr Thomas Djamaluddin, pakar antariksa dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional atau LAPAN.

"Meteorit sporadis seperti itu berasal dari batuan antarplanet. Sifatnya sulit sekali diprediksi, tidak bisa ditentukan dan dipekirakan waktunya," ujar Thomas kepada Kompas.com, Jumat (30/4/2010). Menurutnya, jumlah batuan antariksa yang masuk ke atmosfer Bumi sangat banyak dan ukurannya bermacam-macam. Sebagian besar mungkin terbakar habis di atmosfer. Hanya sebagian kecil yang sampai dekat permukaan Bumi dan diketahui manusia.

Thomas menjelaskan, meteorit berasal dari batuan antariska yang melayang-layang di luar angkasa dan mengorbit matahari. Jika suatu saat kebetulan berpapasan dengan Bumi, maka batuan tersebut kemudian masuk atmosfer dan terbakar. Kalau ukurannya besar, maka tidak habis terbakar dan meledak saat menabrak permukaan Bumi.

Menurut Thomas, ada dua jenis batuan meteorit secara umum, yakni yang tersusun dari bahan seperti batuan Bumi dan dari bahan logam yang kuat. Meteorit yang tersusun dari logam bisa menghasilkan ledakan lebih hebat. "Kalau betul di Duren Sawit meteorit, kemungkinan batuan yang rapuh yang sampai ke permukaan kemudian meledak saat menabrak rumah," ujar Thomas.

Saat ini, LAPAN telah mengirimkan tim ke lokasi kejadian untuk mempelajari kemungkinan tersebut dan menganalisisnya. Puslabfor Polri sebelumnya telah mengumpulkan debu-debu dan serpihan yang ditemukan di lokasi ledakan dan sementara menyimpulkan bahwa ledakan berasal dari benda luar angkasa.

Menyelamatkan Ozon Dengan Kompos

Ringkasan Artikel
 Dengan begitu, gas-gas yang terkandung dalam gas NOx merupakan komponen utama pada lapisan bawah ozon yang bisa mengakibatkan pemanasan global. Guna mereduksi emisi gas-gas tersebut, tim peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia memanfaatkan kompos sebagai medium penyaring gas emisi dari Nox tersebut. Karenanya, tim ini berupaya mengembangkan penelitian yang bisa mengurangi konsentrasi gas NOx yang diemisikan ke udara. Mikroorganisme yang terdapat di permukaan medium filter akan membentuk biofilm, sehingga terjadi transfer massa polutan dari fasa gas ke fasa cair.Selain itu juga dari fasa solid ke medium yang dilanjutkan dengan degradasi polutan oleh mikroorganisme tersebut. Prinsip kerja biofiitrasi adalah mengalirkan udara dan polutan yang telah dihumidinkasi melalui media berpori yang memiliki kemampuan menyerap senyawa gas, sekaligus mendukung pertumbuhan mikroorganisme dalam kompos. Salah satu alasan penggunaan kompos sebagai medium filter yakni karena nutrisi pada kompos dapat diperoleh melalui proses mineralisasi, dan mampu berdifusi pada biofilm untuk menggantikan nutrisi yang dikonsumsi mikroorganisme. "Sistem biofilter dengan medium kompos berpotensi mereduksi gas NOx, khususnya N2O," tambah peraih doktor bidang teknik kimia dari Tohoku University, Jepang, itu.
silahkan klik bataviase untuk lebih lengkapnya
 

naskah pidato

Contoh Pidato - Sebelum saya memberikan contoh naskah pidato ada baiknya kita sedikit mengetahui pengertian dari pidato itu sendiri. Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau berorasi untuk menyatakan pendapatnya, atau memberikan gambaran tentang suatu hal. Pidato biasanya dibawakan oleh seorang yang memberikan pernyataan tentang suatu hal atau peristiwa yang penting dan patut diperbincangkan. Pidato juga merupakan salah satu teori dari pelajaran bahasa indonesia.

Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya.

Berikut ini akan saya berikan 2 contoh naskah pidato, pertama contoh pidato tentang Globalisasi dan yang kedua contoh pidato Hari Pendidikan Nasioanal. Semoga bisa bermanfaat bagi yang membutuhkan

Untuk mengetahui contoh naskah pidato silahkan klik contoh naskah pidato